Saturday, October 27, 2012

Game of Life

Beberapa dari kita yang suka main video game baik di PC, console atau gadget biasanya pada awal-awal permainan diharuskan untuk memilih tingkat kesulitan / difficulty level. Tergantung jenis gamenya, pada umumnya ada 3 atau lebih difficulty level yang bisa dipilih, Easy, Normal, Hard. Pada beberapa game tertentu istilah tingkat kesulitan bisa berubah, misalnya casual, normal, elite, dsb. Walaupun berbeda istilah, namun prinsipnya sama yaitu untuk menyesuaikan tingkat kesulitan game sehingga dapat dinikmati oleh pemainnya. 


Ada orang yang selalu memulai game dengan memilih difficulty tersulit. Menikmati tantangannya, menikmati saat-saat dibuat frustasi dan berpikir keras untuk bisa menyelesaikan game tersebut walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan difficulty lain yang lebih mudah. Pada akhirnya, memang ada rasa puas yang sangat rewarding untuk mereka yang bisa menyelesaikan game tersebut pada difficulty yang tertinggi. Dan untuk beberapa orang yang menganggap gaming sebagai bagian dari kehidupannya, perasaan rewarding tersebut yang justru menjadi inti dan tujuan utama dari bermain game.

In real life, it is not that much different. Seandainya hidup adalah permainan, maka kita seharusnya bisa menentukan level kesulitan yang ingin kita mainkan. Mungkin ada yang akan berkata, level kesulitan hidup seseorang sudah ditentukan sejak dia lahir, sudah digariskan oleh takdirnya.  Seorang anak yang lahir di keluarga miskin di jalanan Jakarta sudah pasti akan mendapatkan difficulty very hard, sedangkan anak yang lahir di keluarga yang lebih mampu mungkin akan mendapatkan difficulty very easy.

Mungkin ada betulnya pendapat tersebut, tapi juga banyak salahnya. Memang betul kita tidak bisa memilih dilahirkan seperti apa, oleh siapa, dalam kondisi apa. Dalam konteks tersebut, hidup kita sudah given, tidak ada pilihan lain. Masing-masing kita sudah diberikan sebuah judul game yang berlainan jenis dan tipenya. Anak orang miskin yang disebutkan di atas punya judul dan jenis game yang berbeda dengan anak orang kaya tersebut, that's given. Dan sepanjang hidupnya, si miskin dan si kaya akan memainkan game yang berlainan tapi bukan berarti game yang satu lantas menjadi lebih mudah dari game yang lain. We live our own life just like we play our own game.

Pilihan lebih mudah dan sulit, kembali lagi ke masing-masing anak tersebut. Si miskin bisa memilih difficulty very easy, dan menjalani hidup di jalanan, bolos sekolah, jadi pencuri, jadi preman, dan akhirnya dibui. Si kaya juga bisa memilih difficulty yang sama, menjalani hidup menghabisakan uang orang tuanya, terjerumus narkoba, sakit-sakitan, dan akhirnya mati muda. 

Tapi mereka bisa memilih difficulty yang sedikit lebih sulit, mungkin difficulty normal atau hard. Si miskin bisa memanfaatkan sekolah-sekolah gratis untuk belajar, dapat beasiswa atau masuk TNI, jadi orang berpengaruh dan jangan-jangan bisa jadi presiden. Si kaya juga bisa jadi pengusaha sukses yang jujur, berbagi dan berbuat untuk orang banyak, dan jangan-jangan juga bisa jadi presiden. It's all about choice. 

Dan pada intinya, bukan hidup, bukan pula takdir yang menentukan tingkat kesulitan hidup kita, tapi kita sendiri yang memilih seberapa mudah / sulit kita ingin menjalani hidup ini. Kalau kita perhatikan di sekitar kita, mayoritas orang memilih difficulty normal, menjalani hidup seadanya, sekolah, kuliah, kerja 8 to 5, menikah, punya anak, pensiun, mati dengan tenang. Tapi kalau kita tanyakan lagi, apa mereka puas dengan bermain di level normal ? Apa setelah sekian panjang perjalanan hidup, mereka merasakan rasa rewarding itu ? Jika jawaban dari pertanyaan tersebut adalah "tidak", masih inginkah mereka mengulang sekali lagi game ini dan memilih level difficulty yang lebih tinggi ? Tapi masih adakah kesempatan yang kedua ?

Dan lagi-lagi jawaban dari pertanyaan di atas kembali ke masing-masing orang. Mungkin mayoritas memang puas bermain di difficulty normal atau easy, and that's fine. Tapi seperti yang sudah disebutkan di atas, ada juga orang-orang yang memang selalu memilih diffculty tersulit, bahkan untuk permainan kehidupan ini. Kita bicara tentang orang-orang yang namanya tercatat di sejarah dunia, Gandhi, Mother Theresa, Hawkings, Bill Gates, Tan Malaka, Soekarno. Tapi kita juga melihat orang-orang itu di sekitar kita, relawan-relawan, pengajar dan dokter di daerah terpencil, pemimpin-pemimpin yang jujur dan bekerja untuk rakyat, dll. 

Mereka hidup dan memilih difficulty level yang sedikit lebih sulit dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan. Kita yang selalu memilih bermain di difficulty normal atau malah easy, tidak akan melihat apa yang mereka lihat, tidak akan merasakan apa yang mereka rasakan, dan tidak akan pernah memperoleh kepuasan yang rewarding pada akhir permainan seperti yang mereka dapatkan.

Jadi, selamat memilih difficulty dari permainan kehidupan kita masing-masing. Tapi jangan lupa kalau kita cuma punya satu kali kesempatan memainkan game ini. 

You only live once, and if you want a rewarding life, play the Game of Life at the highest possible difficulty.


Monday, September 24, 2012

THE WORLD’S GREATEST (EULOGY FOR AHENG)


I am a mountain
I am tall tree, oh oohh
I am a swift wind,
Sweeping the country,

I am a river,
Down in the valley,
I am a vision,
I can see clearly,

Masih inget heng ? Waktu kita teriak-teriak nyanyiin lagu itu.
Di kampus, di jalan, di kosan lu, di tempat gw di Lembang.

Waktu kita masih bangga sama diri sendiri, merasa paling hebat di dunia.
Merasa ga ada lawan, arogan sampai level tertinggi.

Waktu kita rebutan title World’s Greatest, atau waktu kita sama-sama ngeklaim title jenius, dan seenak jidat kita ngedefinisiin jenius versi kita masing-masing. Jeniusnya Einstein Vs Jeniusnya Hanamichi Sakuragi


Waktu kita saingan di hal-hal ga penting

Taruhan banyak-banyakan ditolak cewe dalam 1 tahun, berakhir imbang karena sama-sama ga punya guts buat nembak siapapun.

Ngejar cewe yang sama, sign gentleman agreement buat saingan secara fair, dan berakhir dengan tetap sama-sama jomblo.

Ga tidur semaleman cuma buat ngadu WE di tempat gw di Lembang. Akhirnya toh banyakan gw juga yang menang, dan lu bisanya cuma nyalahin stik ato nyalahin radar.

Ngatain gaya main pingpong gw yang eksentrik tapi akhirnya lu kalah juga sama pukulan puter-puter gw.

Dan yang pasti bukan gw yang harus dibonding gara-gara taruhan IP , tapi lu yang dah pernah ngerasain 1 hari dengan rambut keriting.


Gw kalahin lu di hampir semuanya Heng, tapi cuma di hal-hal ga penting.

Di hal-hal yang esensial, lu dah ga kekejar. 4 tahun kuliah dan di depan mata gw lu bertransformasi jadi sosok yang bisa menginspirasi banyak orang. Jadi persona yang bisa diandalkan dan jadi sahabat untuk semua.  

Bahkan setelah masa kuliah, di saat gw cuma bisa kabur ke luar, lu tetap struggle dengan eksistensi lu. Membuat pilihan, keputusan yang ga semua orang bisa. Memulai sesuatu untuk melapangkan jalan hidup lu ke depan.

Dan puncaknya ketika lu bertaruh ikut Indonesia Mengajar, that was awesome, lu tinggalin semuanya untuk menginspirasi lebih banyak orang lagi. Gw bangga, sangat bangga punya temen kaya lu heng. You really are Genius, Hanamichi Sakuragi way.

Dan sampai hari ini, walaupun jiwa dan raga lu dah ga di sini lagi, tapi semangat dan legacy lu masih dan akan terus terkenang, di hati dan pikiran gw. Sebuah kehormatan bisa sempat berlari-larian bersama lu di jalan hidup yang pendek ini. Be in peace Heng, dan kalo ada orang tanya tentang lu ke gw, dengan bangga gw bisa bilang…

He is a giant
He is an eagle
He is a lion
Down in the jungle

He is the marching band
He is the people
He is the helping hand
He is the hero

If you ask me who he is
I’ll stand up tall, look you in the eyes and say

He is that star up in the sky
He is that mountain peak up high
He who had made it
He’s The World’s Greatest

(Song : The World’s Greatest, R. Kelly)

Rest In Peace
My Dear Friend

Hendra "Aheng" Aripin
(1986-2012)

Monday, June 01, 2009

Ireng masuk Jakarta Post

Setelah 8 tahun kemudian baru diketahui bahwa nama penulis pernah muncul di sebuah artikel di jakarta post..check this out :

Surya Wahyudi wins students c'ships

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 03/01/2001 7:15 AM

JAKARTA (JP): Twelve-year-old Surya Wahyudi of Cakung Barat 01 elementary school won the Enerpac Cup Students Championships on Tuesday.

Surya collected full six match points (MP) from six sessions after defeating all his opponents. The second and third place went to Rezka Aulia and Azkah Muhammad respectively. They collected five MPs each but Rezka won on a progressive score (PS) of 20 compared to Azkah's 19.

Abuzar Fikri grabbed the title in the junior high school category with 5.5 MP followed by Ireng Guntoro Jati and Aris Haryanto who each scored 5 MPs. Ireng won with 20 PSs compared to Aris's 18 points.

In the senior high school category, Zulkarnaen won the title with 5 MPs and 13.5 PSs. He was followed by Rudy Kurniawan who also got 5 MPs but got only 13 PSs and Sauman Sani took third place with 4.5 MPs.

The Indonesian Chess Association (Percasi) will organize a Junior Chess Circuit on March 16 to March 18 at the Wisma Catur on Jl. Tanah Abang I, Central Jakarta. Similar circuits will also be held in Medan, Banjarmasin, Bandung, and Surabaya.

""The junior chess circuits are meant to recruit talented and young chess players for the second chess Dream Team,"" said Percasi spokesman Kristianus Lien in a written statement. (nvn)

Hahaha...jadul bgt nih berita, bahkan saat itu penulis masih kelas 3 SMP. Tapi salah tulis tuh namanya, harusny Ireng Guntorojati payah ni jakarta post. Kangen jg maen catur, jadi pengen ikut turnamen lg, masi bisa bantai-bantai orang ga ya...haha

Thursday, April 09, 2009

Journey Through Infinity - First Milestone

(Author Note : Journey Through Infinity (JIT) is the author personal memoir about..everything, Consider it as another Thus Spake Zarathustra version created by the author's alter ego)

FIRST MILESTONE

I Existed

A Primordial Consciousness of Existence

Came to LIFE

Without holy voice and light
Without big bang and birth
Without creation and evolution
Without divine source and divine purpose
Without body and soul

The journey started, A journey through infinity

From the darkest hour of past
To the uncertainty of future

From unconsciousness
To consciousness

From illusion
To existence

From quantum physics
To God

From earth
To heaven

My journey to LIFE

Though the journey might be endless
Though the search might be in vain
Though the resistance might be futile

It was to be started, and so it was

Sunday, April 05, 2009

Culture Shock

By definition : Culture shock refers to the anxiety and feelings (of surprise, disorientation, uncertainty, confusion, etc.) felt when people have to operate within a different and unknown cultural or social environment, such as a foreign country. (Wikipedia)

Penulis juga mau tidak mau mengalami berbagai macam culture shock, di antaranya adalah bertemu orang-orang asing dengan budaya dan pola pikir yang berbeda dengan orang-orang indonesia. Ada beberapa obrolan menarik dan lucu yang antar penulis dengan orang-orang di sini atau obrolan yang penulis dengar sendiri.

Penulis : Hey zender, how are you doing?
Orang America : Great, but I haven't found any place to have fun here
Penulis : There are a lot of them
Orang America : Really? So do you know where is the nearest night club? We should go together.
(err...penulis bingung karena biasanya cuma jalan-jalan ke Taipei Main Station atau night market)

Penulis : What will you do after exam?
Orang amerika selatan : Off course, get drunk...
(Kerjaan orang latin emang cuma mabok dan berantem)

Penulis : So Laoshi (teacher) do you have a plan to get married?
Laoshi : I don't think so...maybe not
Teman penulis dari indonesia : WHAT? But don't you want to experience sex?
Teman penulis dari kolombia : oh another culture shock...
(Itu bukan penulis yang ngomong sumpah...)

Laoshi : Sorry if it's not a proper question, but do you have a religion belief?
Penulis : Oh that's no problem. Off course I have, I'm a catholic. How about you laoshi?
Laoshi : No, I don't have any. So do all of indonesians have religion?
Penulis : Yes, it is required and we even state our religion in the ID
Laoshi : Really? Wow that's very funny..
(Penulis bingung karena merasa tidak sedang ngelawak)

Penulis : I'm amazed here maybe because I'm coming from a developing country into a developed one.
Orang Amerika : Taiwan is a developed country? I don't think so. It is still developing
(So your point is...emmm. Indonesia is an undeveloped country)

Penulis : So, are you a moslem?
Orang Turki : I am a moslem. But I don't follow its rule
Penulis : What do you mean?
Orang Turki : I don't go to mosque, I drink alcohol and sleep with women before marriage.
Penulis : oh ok...
(Kirain orang turki alim2 hehehe ternyata ga semuanya)